an ordinary

Berdamai

Kutembus lebatnya hujan kemarin, aku ingin segera sampai kerumah. Berharap inilah akhir dari mimpi burukku dalam koma yang panjang. Berkali-kali kurasakan sakit dari apa yang tak pernah kurasakan sebelumnya, kali ini kembali terulang. Aku hanya ingin berdamai dengan waktu, tak ingin melawan lagi. Sudah bisa kumengerti apa yang harusnya dijalani sekarang. Tapi, terkadang sakit dari pengertian itu selalu saja menimbulkan perih yang teramat. Ingin menyerah dan pergi untuk terbebas dari belenggu yang menyiksa jiwa, selalu saja tak bisa. Entah apa yang menahanku untuk tetap disini. Untuk tetap berkecamuk dengan rasa sakit yang selalu siap memberi rasa perih itu. Aku hanya ingin ada damai esok siang, entah bersama siapapun itu. 


UNTUK KAMU Yang sekarang bukan lagi milikku

Kamu tau apa yang aku fikirkan setelah melihat semuanya pagi ini ???

sia-sia semua perjuangan aku untuk mempertahankan semua ini, karena pagi ini tulisanmu di ruang bisu itu menyadarkanku, sudah tak ada lagi harapan untuk aku dan kamu bisa mengulang “proses” itu. Aku tak bisa pungkiri, sayang ini masih begitu kuat, ikhlas belum sepenuhnya ada dihati. Kau tahu, betapa aku histerisnya pagi ini. Menghancurkan permata bahagiaku yang aku dapat semalam bersamamu. Setelah “dia” yang kini mengubahmu menjadi entah seperti apa, aku tak kenal. Semakin perih saja  sayatan sembilu yang kau goreskan. Sadarkah kau, bahwa aku sedang tertatih melangkah meraih mimpi “KITA” dulu ?? Masihkah kau ingat dengan mimpi-mimpi di kolong langit yang “KITA” teriakkan hingga bergetar langit malam itu ??? Masihkah wahai penguasa malam ???

Saat kita bersama menggilai malam, menaklukkan malam bersama rintik hujan yang bisa membuat dadaku ini kembali sesak. Saat kau menjadi diam ketika aku tak bersamamu, masih bisakah kau merasakan itu ????


Harapan itu masih sama

Sampai pagi ini, detik ini harapan itu masih sama. Dan semalam aku berharap malam itu adalah malam yang membuat aku mengenal dirimu yang sudah-sudah aku kenal. Tapi apa, malah semakin aku tak mengenalmu, setelah kamu berdiri tepat dihadapku. Mengejutkanku dengan rangkulan tanganmu dipundakku, tapi rangkulan yang tak aku kenal seperti biasanya. Bukan karena aku dan kamu tidak lagi berupa KITA, tapi saat menjadi KITA aku telah kehilangan kamu yang aku kenal. Masih ingat perayaan tahun baru kemarin ?? masih ingat dengan pesan singkat yang kamu kirim saat aku tak juga pulang bersamamu ?? semua hal itu yang menguatkan aku untuk tetap mempertahankan harapan ini. Pesan singkat bahkan sangat singkat itu, masih aku simpan di telepon genggamku. Saat sahabatmu menanyakan kamu kepadaku, aku bingung. Tak ada yang tahu tentang semua masalah ini. Aku bukan merindu masa-masa KITA, bukan. Aku merindu jiwamu yang dulu. Jiwa yang tak pernah letih mendengar ceritaku, yang selalu mengingatkan untuk aku minum obat yang tak mengenakkan itu, mengingatkan aku akan deadline-deadline tugas dan pekerjaanku. Aku merindu senyummu yang tak pernah hilang saat bersamaku, aku merindu!. Apa bukan jiwa yang aku kenal sudah-sudah yang berdiam di ragamu???


Balutan Luka

Dulu memang ada salut untukmu

hampir selalu ada bangga bisa dekat denganmu

tapi kini…

sejak kemarin, saat diam itu memuncakketika emosi membakar habis sabar ini

saat diri tak lagi tertahan

semua balutan bangga itu terkoyak

terberai kearah yang tak jelas

terselip luka dihatiku

sakitnya karena kau yang ciptakan 

insan yang selalu aku ingat disegala ceritaku

insan yang menjadi topik dikisah hatiku

kini menjadi antagonis

Aku mohon, jangan gunakan lemahku ini

untuk mengalah akan keegoanmu


Tuhan, Aku Mohon

Tuhan, sebelumnya aku tak pernah letih dengan apa cobaan dariMu

takpernah aku ingin lari dari semua sulit yang kau berikan

Bagiku itu anugrah terindah dan bukti kasih sayangMu bagiku

Sebelumnya aku selalu kuat untuk menjalankan semuanya sampai tuntas

Tanpa sedikitpun keluh kesah dihadapMu

Dan sebelumnya aku sangat senang dengan semua cobaan itu

Tapi, malam ini…

Lelah itu menghujam, hatiku letih Tuhan

Biarlah Kau beri cobaan yang maha dahsyat dari cobaan satu ini Tuhan

Aku ikhlas..

Asal bukan hal ini yang menjadi sulitku untuk meraih mimpi-mimpiku..

Aku mohon Tuhan

Ijinkan aku untuk menyelesaikan perjalanan yang telah aku tempuh ini

Setengah perjalanan belum ada aku masuki

Aku mohon Tuhan…


flash back masa ga enak

  • Amie :masih ingat yg aku minjam selotip samamu ?
  • Ela :masihlah, knp ? hahah
  • Amie :gila kau ya,mati kutu aku bah... baru sekali it aku dicuekin sm orang..
  • Ela :apalah pikiranmu waktu itu cak ?
  • Amie :ini puncak dari perang dingin itu..udah berefek ah sama aku..cuma itu yg bisa kusimpulkan
  • Ela :itulah selama ini yang ku rasakan...aku sbnarnya dger, tpikan suaramu kecil wktu itu, makanya kucuekin, mngkin kau ngmong sm yg lain..
  • Amie :ga ngerasa kau klo senyap tiba" ruangan itu karena kita, waktu tiba" aku ke mejamu
  • Ela :ah masa
  • Amie:hahah, entahlah yaaaa..
  • Ela :Jadi seandainya aku ga ngasihlah Mi, padahal ada disitu barangnya..kau mau ngapain ?
  • Amie :Rencana mau kutampar kau La, mati kutu x aku loohh..tega x kau ya..ckckckck
  • Ela :Memangnya cuma aku yang punya waktu itu ?
  • Amie :Gak sih, entah kenapa aku iseng x hari itu, kau tau kn aku bru datang itu..
  • Ela :iya tau, hahah
  • Amie :Kau ga tau semua mata mandang ke kita waktu itu ?
  • Ela :hahah, iya yaa?? yang aku tau cuma si sinta aja..
  • Amie :semua loh Laaa, tebodoh gitu pun orang tu, si ana aja smpe berenti gambar, si alvy tediam..hahah..masih inget kali aku bahh
  • Ela :gak enak kan Mi, kek gitulah Mi..
  • Amie :tau aku La, itu aku ada tujuannya loh, ada tujuan baik..tapi malah kek gitu ceritanya..hmmm
  • Ela :Hahahh..
  • Amie :ketawa kau -_-

Tuhan, Terima kasih

Terima Tuhan…

Tlah Kau ijinkan aku menikmati hari ini

Setiap detik dan menitnya berjam-jam

Dengan semua kebahagiaan hari ini

Bersama jiwa yang Kau tiupkan kebahagiaan

Tak pernah habis senyum ini tersungging

Nyaris mataku berbinar haru untuk hari ini

Masih bisa kutahan

Aku tak ingin jiwa itu bertanya heran

Mengapa dalam bahagia aku tetap menitikkan air mata

Tak ingin aku terlihat seperti seorang lemah

Tak ingin mendramatisirbahagia ini

Bahagia ini benar bahagia

Bahagia tanpa haru

Bahagia hari ini adalah dia

Tuha terima kasih atas penciptaanMu

Bahagia aku dengan ciptaaanMu yang satu ini


Buat Teman yang dulu “terlupakan”

Ga tau harus gimana lagi untuk menyalutkan kebesaran jiwamu. Selama ini mungkin kamu adalah sahabat yang terlupakan bagiku, dan waktu itu aku tlah lancang memakimu lewat pesan singkat. Dan parahnya aku menanyakan hal itu sama kamu “masih ingat ga aku pernah maki-makimu lewat sms?” kataku sambil terus mengerjakan tugas, “oh, yg itu. masih ingat jelas, dan aku ga bisa bayangin apa yang akan terjadi dikelas nanti waktu kita jumpa” kenangmu. Aku tersenyum saat kamu masih ingat itu. Senyum yang mengelabuimu tentang hatiku yang merasa bersalah sampai sekarang. Aku masih tak terima kamu bisa “welcome” dengan persahabatan ini. Padahal aku sudah terlalu picik menilaimu. Disaat semua orang-orang terpercayaku itu tlah menjadi komplotan antipati, dan aku keluar dari lingkarannya, aku semakin sadar siapa yang tulus dan tak menuntut suatu apapun untuk berteman denganku. Herannya kamu tak pernah membalas semua kesalahan itu. “untuk apa, aku ga begitu mengurusinya” katamu. Ahh, kamu memang manusia kritis yan berhasil membuat kedewasaanku teruji. Salah besar ternyata penilaianku selama ini terhadapmu, sobat. Kamu begitu luar biasa setelah aku kenal dan coba ikuti cara berfikirmu. Aku sempat berfikir tak akan pernah bisa dekat sama kamu sampe tamat kuliah nanti, tapi sekarang aku malah takut setelah tamat kuliah anti kita ga bisa gila bareng lagi. Ya, inilah aku dengan kelemahan yang kini tlah terbaca otak kritismu itu, “kau ga berfikiran aku manfaatin kau kan Mi?” tanyamu. “loh kenapa?, selagi aku bisa, apapun itu, aku bantu”tandasku. Dalam hatiku, aku tau lagi kalau kamu tulus sama persahabatan ini, mungkin aku berlebihan menganggap ini persahabatan. Tapi aku harus jujur, hal seperti ini benar - benar aku rindukan setelah aku kehilangan arti sahabat itu selama beberapa tahun lamanya. Dan sama kamu aku benar-benar bisa jadi diriku yang dulu lagi yang ga harus terpenjara dalam kenyamanan pertemanan yang palsu. Mungkin kamu ga akan pernah tau sama tulisan ini, dan mungkin ga akan frontal percaya. Karena aku tau siapa kamu sekarang. Yang aku mau, cuma ketulusan dalam persahabatan ini. Tanpa ada keseganan-keseganan yang membuat kita saling menjaga perasaan. karena bagiku, bicara apa adanya lebih bisa mengendalikan keadaan. Jangan lagi kamu anggap aku ini tak ikhlas atau apalah tentang semua yang aku berikan. Dan jangan pernah berfikiran, kalau aku berfikir kamu memanfaatkan persahabatan ini untuk kepentinganmu. Jangan.